Saturday, August 13, 2016

I am going vegan

Approximately last fortnight ago, I accidentally saw piles of disgusting pictures about animal cruelty behind our daily consumed food in one of my facebook friend’s timeline. Well, it did nauseate myself quite bad and I ended up swimming into tons of information of the food industry facts that I didn’t reckon before.
Ready eat meals are quite, if might say very, expensive here in London. So I prepare and cook almost every meal that I have everyday. There are several moments since I live here that I found the taste of the meat, either beef of chicken, blant. I did not find them tasty, but rather ruining my taste. The smell and the texture, somehow, sicken me.
Me myself was not particularly a big fan of meat either back then, I’ve been undergoing quite a healthy lifestyle with lots of vegs and fruits. However, I still thought that I need the proteins and nutrients from the meat, and I quite fancy some taste of them which are delicious such as salmon sashimi, etc; so I still consumed them routinely in my diet.
Yet, after doing some deep research about veganism, it gave me the new idea that actually we’re completely able to gain those essential nutrients from the plant-based sources! And the fact is there are many many people that actually benefit more after they’ve been undergoing the vegan lifestyle. They confide that they become more positive, energetic, less sluggish, loose weight, their skin become glowing, and they feel even more connected to the universe. Some male vegan could still grow great muscles, even better; and girls just have the lean body effortlessly, which was dreadfully toilsome before.
I don’t push myself too much for this, really. It happens naturally as it is more like a life call. I know my family and perhaps many of u, would not support this new lifestyle I am going to encounter, but I have committed myself to practice such kind of conscious-eating to myself. I would still respect your kind invitation to savour yummy dishes, albeit I would perhaps would not enjoy them as much since the loud painful process of the lives sacrificing behind the meal would keep reciting in my mind while I’m consuming them.


So here I am, doing what feels good to me :)



Wednesday, August 3, 2016

Efektivitas! Kunci penting untuk produktif

Tidak terasa telah hampir dua bulan saya sekarang berada di London. Banyak rekan saya di Indonesia bertanya, apakah saya sudah kangen rumah alias homesick? Saya selalu bilang belum. Bahkan, anehnya saya merasa sangat nyaman dan tidak asing di sini. Banyak orang mewanti-wanti akan adanya culture shock di tempat baru; well, to be honest, di Indonesia saya malah kerap merasakan culture stress! Mengapa saya katakan begitu? Akan saya jelaskan berikutnya. Perlu saya sampaikan bahwa saya tidak sedang menjadi seorang yang tidak cinta tanah air, tetapi saya ingin memberikan gambaran fakta yang mana perlu kita jadikan bahan evaluasi diri agar menjadi bangsa yang lebih baik ke depannya. Banyak alasan yang membuat saya merasa sangat nyaman di London, saya pun tidak bisa mengelaborasinya secara jelas, tapi saya merasakannya! Berikut saya sampaikan salah satu di antaranya, yaitu tentang efektivitas. Alasan-alasan lain akan saya elaborasi di post terpisah di lain kesempatan ketika saya dapat inspirasi lagi ya :)

Orang-orang di sini suka bekerja efektif. Berikut adalah contoh riil yang saya alami. Saya memiliki dua orang supervisor yang mana salah satunya adalah kepala departemen yang sangat-sangat sibuk, sebut saja Prof A. Beliau memiliki sekretaris pribadi yang selalu mengatur jadwal beliau. Di tengah kesibukan mereka, saya dan kedua supervisor saya menyetujui untuk mengadakan regular joint meeting setiap satu kali dalam sebulan yang tanggal dan waktunya disesuaikan. Dikarenakan Prof A sangat sibuk, saya disarankan untuk mencari waktu kosong Prof A terlebih dahulu baru mencocokkannya dengan jadwal supervisor saya yang satu lagi, sebut saja Dr B, yang tidak sesibuk Prof A. Saya lantas menyampaikan hal tersebut dengan sekretaris Prof A untuk mencarikan saya tanggal di setiap bulannya untuk regular joint meeting tersebut. Karena saya tidak ingin merepotkan sang sekretaris yang pastinya sudah sangat sibuk, saya menawarkan diri bahwa setelah dia memberikan beberapa pilihan tanggal kosong Prof A, saya akan menghubungi Dr B untuk mencari tanggal yang pas untuk keduanya lalu barulah saya mengkonfirmasi tanggal tersebut ke sekretaris Prof A untuk mem-booking tanggal dan waktu tersebut untuk meeting kami. Luar biasa, sang sekretaris mengatakan bahwa dia saja yang akan mem-propose tanggal kosong Prof A ke Dr B dan setelah dia mendapatkan tanggal pasti di mana keduanya dapat hadir, barulah dia tinggal memberikan tanggal tersebut ke saya. Dia berkata bahwa percuma saja jika dia memberikan saya tanggal Prof A dan saya harus repot bolak balik ke Dr B lalu ke dia lagi untuk konfirmasi. Wow! Suatu inisiatif yang tidak saya ekspektasi sebelumnya sama sekali! Yah saya tahu bahwa itu merupakan hal yang lebih efektif, namun tentu saya tidak ingin lancang menyuruhnya untuk melakukan hal tersebut karena akan menambah beban kerjanya dengan harus mengkonfirmasi tanggal ke Dr B juga, kan dia adalah sekretaris Prof A. Saya sangat suka pola berpikir sang sekretaris! Yang penting efektif, tidak perlu merepotkan banyak pihak.

Saya membayangkan dan teringat betapa parahnya sikap para petugas administratif di berbagai institusi di Indonesia! Yah saya yakin kalian semua pasti pernah mengalami sistem birokrasi yang berliku-liku dan rumit. Saya sering sekali geleng-geleng kepala dan mengelus dada jika melihat efektivitas dan produktivitas para pekerja itu. Banyak sekali waktu dan sumber daya yang terbuang sia-sia, yang mana sebenarnya pekerjaan mudah dapat diselesaikan dalam waktu singkat namun berakhir pelik karena tidak adanya kepedulian satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan bersama. Berapa dari kalian yang pernah merasa di-pingpong oleh petugas-petugas birokrasi itu dan kalian harus bolak-balik tidak karuan padahal jika mereka bisa berkomunikasi internal, semua hal tersebut tidak harus terjadi? Para petugas masing-masing divisi pasti biasanya akan hanya peduli dengan pekerjaannya sendiri, dan tidak peduli dengan efektivitas secara holistik. Bayangkan jika sekretaris Prof A tadi jika kondisinya di Indonesia, hampir pasti dia tidak akan mau jika harus disuruh mengkonfirmasi juga ke Dr B baru memberi tahu saya tanggalnya, boro-boro inisiatif menawarkan diri.

Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi sekali seperti ini, namun pernah juga di lain kasus yang akan terlalu panjang jika saya ceritakan kembali. Saya rasa dari penjelasan di atas kalian sudah mendapatkan esensi efektivitas dan produktivitas yang saya maksud. Akhir kata, saya adalah orang yang cinta bekerja efektif. Saya tidak tahan (bahkan dengan diri sendiri) jika saya tidak efektif, baik dalam hal sekecil apapun. Semoga Indonesia perlahan dapat berubah ke arah yang lebih baik, saya melihat ada harapan dengan beberapa pemimpin kita saat ini :)