Tuesday, July 8, 2014

Aku dan Agamaku, Mengapa Buddha.

Saya di sini tidak sedang mempromosikan agama Buddha, tidak pula berupaya melakukan kampanye hitam terkait agama yang lain, ataupun berusaha menarik orang-orang untuk memeluk agama Buddha.
Mengapa? Karena agama adalah suatu relasi yang paling intim antara dirimu dengan dirimu yang sesungguhnya, alam semesta, kekuatan luar biasa di alam semesta, atau mungkin sebagian orang menyebut-Nya dengan Tuhan. Tidak ada yang bisa mendikte di mana hatimu akan berada, karena itu ada di mana ia harusnya berada. Hanya kamu dan dirimu yang tahu apa yang sesuai untukmu.

Saya hanya ingin berbagi sedikit tentang pemikiran saya dan perenungan hati saya terkait spiritualitas pribadi saya (ya, karena ini blog pribadi saya). Saya kini berusia 23 tahun, usia yang cukup matang buat saya karena saya merasa telah menemukan karakter dan jati diri saya, termasuk di dalamnya tentang keyakinan.

Sejak kecil saya dibesarkan dalam keluarga sederhana, pekerja keras, berwatak keras, mandiri namun cukup liberal dan penuh kasih sayang. Kedua orang tua saya mendidik saya dengan dasar agama Buddha, yakni lebih spesifiknya adalah Nichiren Shoshu Buddhism yang menyebut Nammyohorengekyo. Dari saya bayi hingga remaja saya selalu diajak ke Wihara untuk ikut beribadah (meskipun saya hanya kebanyakan bermain dan tidak mengerti apa-apa). Ya, kedua orang tua saya cukup rajin dalam beribadah.

Karena sulit menemukan sekolah yang baik di kota kecil saya (Jambi), saya sedari TK disekolahkan di sekolah Katolik, yakni TK dan SD Xaverius 2 (karena juga dekat rumah), lalu lanjut ke SMP dan SMA Xaverius 1 (karena sekolah terbaik). Ketika SD dan awal SMP, sempat terbersit dan sangat besar keinginan saya untuk ikut ke gereja bersama-sama teman saya, sepertinya menyenangkan.

Jujur saja, saya ketika kecil adalah anak yang pemalu dan sangat gengsian. Saya tidak merasa “KEREN” ataupun “BANGGA” menjadi seorang Buddhist, yang mana sebenarnya saya juga belum bisa dibilang Buddhist karena tidak mengerti apapun dan hanya ikut orang tua. Citra agama Nasrani seperti Katolik atau Kristen (di lingkungan sosial saya) bisa dikatakan cukup baik, di mana mereka yang memeluk agamanya dan pergi ke gereja terlihat keren saat itu buat saya (well, mungkin hingga saat ini masih terlihat keren bagi sebagian orang); sedangkan orang beragama Buddha yang pergi ke Wihara itu terlihat kuno dan tahayul, apalagi agama Buddha Nichiren Shoshu bukanlah sekte yang banyak dikenal banyak orang.

Saya kecil, ketika berumur kurang lebih 12 tahun, pernah mengemukakan keinginan saya untuk pergi ke gereja kepada orang tua saya. Saya mengatakan ingin ikut teman untuk sekolah Minggu. Orang tua saya saat itu tidak mengizinkan, dan malah menyuruh saya pergi ke Wihara dan ikut kegiatan generasi muda di sana. Terus terang saja saat itu saya sempat kesal dan sedikit marah, namun apa daya saya tidak bisa melawan kehendak orang tua saya. Saya akhirnya dengan terpaksa mengikuti ibadah serta diskusi ceramah mingguan untuk generasi muda di Wihara saya. Dari sana, saya pelan-pelan diajarkan tentang dasar-dasar agama Buddha dan segala macam tentang Dharma (ajaran agama Buddha). Beruntungnya, saya adalah tipe orang yang suka belajar; pada saat itu ajaran Buddha adalah hal yang cukup menarik bagi saya sehingga saya terus bertanya dan belajar lebih dalam.

Seiring berjalannya waktu, saya yang awalnya terpaksa ikut kelas Dharma karna disuruh orang tua, menjadi semakin mencintai kelas tersebut. Saya dengan sendirinya selalu ingin datang dan belajar lebih jauh tentang Buddhism. Bagi saya yang awam dan penuh dengan pertanyaan konyol tentang kehidupan dan alam semesta, Buddha Dharma memberikan semua jawaban. Tidak ada pertanyaan yang tidak dapat dijelaskan oleh Buddha Dharma, dan semua jawaban itu tampak paling masuk akal dan selaras dengan jalan pikiran kewajaran saya dibandingkan dengan semua versi cerita yang pernah saya dengar di pelajaran agama sekolah ataupun cerita lainnya. Semakin hari, semakin dalamlah pemahaman saya tentang agama Buddha.

Seiring dengan proses pembelajaran saya dan pelaksaan ibadah atau meditasi yang rutin saya jalankan, mulailah muncul segala macam kejadian dalam kehidupan saya yang membuktikan kebenaran Buddha Dharma. Dengan demikian, secara otomatis keyakinan saya pun pasti semakin bertambah tentang ajaran agama ini. Bagaikan anak kecil polos yang tak tahu apapun tentang dunia, lalu diberi makanan bergizi setiap hari dengan dikatakan bahwa makanan tersebut dapat membuatnya sehat dan tumbuh besar; lalu ia tumbuh dewasa dan sehat, serta merta membuktikan kebenaran pernyataan dan pelaksanaa dari proses memakan makanan bergizi tersebut, maka yakinlah ia akan kebenarannya. Kurang lebih itulah yang saya alami.

Meskipun kurang lebih dari SMP hingga SMA saya benar-benar mendalami ajaran Buddha Nichiren Shoshu dan telah sangat yakin terhadap kebenarannya, hal tersebut tidak lalu menutup mata saya dan membuat saya berhenti belajar. Ketika saya masuk kuliah di UI, di semester pertama saya mendapat mata kuliah agama Buddha dan saya tergabung dalam KMBUI (Keluarga Mahasiswa Buddhist Universitas Indonesia), di mana pengetahuan saya terkait agama Buddha sekte lain dan secara keseluruhan semakin bertambah dan pikiran saya semakin terbuka lebar.
Sudah saya katakan bahwa saya adalah tipe orang pembelajar, dan juga saya suka belajar banyak hal dari berbagai sudut pandang. Saya tidak mudah percaya terhadap suatu pernyataan dari satu pihak sebelum saya membuktikannya sendiri. Sejak duduk di bangku kuliah, saya semakin memperdalam banyak ajaran agama dan filosofis dari berbagai sumber, terutama buku dan internet. Saya mempelajari tidak hanya agama Buddha sekte lain, sejarah agama Buddha sejak awal, hingga seluruh ajaran agama lain pun saya pelajari mulai dari Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Konghucu, Judism, bahkan paham-paham Atheism dan Liberalism. Saya juga memperdalam (karena saya juga sangat tertarik) terhadap ilmu-ilmu filosofi, psikologi, astronomi, metafisika, dan fisika kuantum.
Jangan sebut saya maniak, tetapi tidak bisa dipungkiri saya memang tertarik ke arah sana, mungkin kamu akan mengerti jika melihat rak buku saya, hehehe.

Setelah lama saya berkutat dan semua ajaran tersebut, pikiran saya menjadi terbuka dan semakin tidak dapat men-judge seseorang dan sesuatu, apapun itu, termasuk agama.
Saya dapat katakan bahwa menurut pendapat saya pribadi, semua agama itu tujuan utamanya 1, yaitu agar kita dapat hidup damai dan bahagia selaras dengan alam semesta (atau beberapa orang menyebutnya ‘bersatu dengan Tuhan’). Setiap agama juga berusaha menjawab segala pertanyaan mendasar kita tentang eksistensi di dunia ini. Bagaimana cara penyampaiannya? Semua memiliki versi sendiri-sendiri. Mengapa terjadi perbedaan? Karena kita sebagai manusia tidak dapat menjelaskan hakikat alam semesta dengan kemampuan indrawi yang kita miliki saat ini; ibarat orang yang belum pernah mengetahui bagaimana rasa durian secara pasti jika tidak langsung mencicipinya. Sebut saja kamu sudah berusaha sekuat tenaga menjelaskan dengan kosa kata yang kita punya seperti “Hmm...Durian itu rasanya manis, sedikit pahit, ada aroma menusuk khas, hmmm... ya begitulah” Kita tidak akan pernah bisa menjelaskan secara tepat tanpa menyuapi durian itu sendiri kepada orang yang tidak tahu tersebut!! Sayangnya, keterbatasan indrawi kita saat ini sebagai manusia di bumi, belum mampu mengerti seutuhnya apa itu “Tuhan”, apa itu alam semesta, berapa luasnya, berapa kecilnya, apa itu waktu, bagaimana keadaan dimensi lain, dan lain sebagainya.
Karena hal tersebut di luar kemampuan dan kendali kita, maka agama memberikan esensi penting yang dapat kita jalankan, yakni berusaha sebaik mungkin menjalani fase kehidupan kita sebagai manusia saat ini, yakni dengan berbuat kebaikan.

Lagi, bagaimana agama dapat memotivasi kita agar sadar dan dapat berbuat kebaikan sehingga dapat hidup selaras berdampingan dalam kehidupan ini, akan saya berikan dalam analogi sebagai berikut. Bagaikan seorang ibu yang ingin anaknya menghabiskan makanannya agar anaknya dapat sehat, berusahalah sang ibu untuk membujuk anaknya agar ingin makan. Cerita apa yang akan diberikan, dan bagaimana penerimaan si anak terhadap upaya sang ibu, sangat tergantung dari bakat kecerdasan dan penerimaan si anak.
Ada anak yang dengan bakatnya dapat langsung mengerti dan menerima ketika dijelaskan secara apa adanya oleh sang ibu bahwa jika ia makan makanannya maka nutrisi dari makanan berupa karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral adalah dapat memberikan energi dan menunjang sistem imunnya agar ia dapat sehat dan beraktivitas; Ada pula anak yang tidak akan mengerti dan menurut jika dijelaskan demikian sehingga tidak memakan makanannya. Namun demikian, sang ibu karena sangat cinta terhadap anaknya, akan terus mencari cara agar anaknya dapat makan. Ada ibu yang menceritakan bahwa jika ia tidak makan, nanti nasinya akan menangis dan petani yang menanamnya juga akan menangis; lalu dengan belas kasihan seperti itu maka si anak akhirnya makan juga. Ada pula anak yang masih juga tidak peduli dan tetap tidak mau makan. Sang ibu pun tidak kehabisan akal, ia lalu menggunakan teknik ancaman, bahwa jika si anak tidak makan, nanti lidahnya akan dipotong. Atas dasar rasa takut seperti itu, akhirnya si anak bandel ini makan juga.
Yang mau saya sampaikan di sini, pada akhirnya ketiga anak tersebut mencapai tujuan yang sama, yaitu makan dan tumbuh sehat! Perihal caranya bagaimana, semua tergantung dari penyampaian sang ibu dan kemampuan penerimaan si anak.

Lalu mengapa saya memilih Buddhism?
Saat ini, menurut saya, ajaran agama Buddha adalah ajaran yang paling mendekati hal yang sesungguhnya, di mana sang ibu mencoba menjelaskan segala sesuatunya dari sudut pandang sebenarnya tanpa ditutup-tutupi agar terlihat lebih menarik ataupun menimbulkan rasa takut. Buddhism juga tidak pernah memberikan dogma kaku yang tidak boleh dipertanyakan atau dilawan; Buddha mengatakan EHIPASSIKO, yakni datang dan buktikanlah! Buddha menganjurkan kita agar tidak langsung percaya terhadap apapun yang kita dengar sebelum kita membuktikan dan merasakan bahwa itu benar adanya. Buddhism juga tidak pernah memberikan ajaran yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan, segala sesuatunya selaras dengan sains dan mayoritas dapat diterima secara nalar karena merupakan perihal kewajaran. Inti ajaran Buddha adalah mengajarkan cara untuk dapat sadar penuh; dengan kesadaran penuh, kita dapat mengerti tentang hukum sebab-akibat (karma), kita dapat mengerti harmoni alam semesta dan berperilaku yang sesuai dengan sifat alam semesta, yaitu cinta kasih.

Saya saat ini sebenarnya cukup sedih melihat beberapa generasi muda Buddhist yang belum mendalami dan memahami hakikat ajaran Buddha yang sangat agung ini lalu memutuskan untuk pindah agama. Rasanya ingin berbagi tentang pemahaman Buddhism yang sangat mencerahkan hati ini terhadap semua orang! “Hey teman, kau telah memiliki obat yang paling manjur, ibu yang paling jujur dan baik, sayang kau belum menyadarinya!”
Yah, namun saya juga percaya bahwa segala sesuatunya itu ada sebab dan jodohnya, jadi biarkanlah alam semesta berjalan seperti apa adanya.

Dapat berjodoh dengan ajaran agama Buddha, apalagi memahaminya di kehidupan saya saat ini merupakan suatu kebahagiaan terbesar. Saya sangat berterima kasih terhadap kedua orang tua saya, serta semua pihak yang senantiasa selalu mengajarkan dan membimbing saya.

Saya saat ini dapat dengan lantang menyatakan bahwa SAYA ADALAH SEORANG BUDDHIST, dan saya BANGGA dengan itu.

Siapapun yang berusaha memaksa saya untuk melepas keyakinan saya terhadap Buddhism dan membuat saya percaya terhadap keyakinannya, mohon maaf sekali, saya bukannya tidak mau, tetapi saya TIDAK BISA; karena inilah keyakinan tulus yang lahir dari dalam diri saya sendiri. Dan saya, tidak mungkin dapat membohongi diri saya sendiri.

Semoga kita semua dapat mencapai pencerahan sempurna,

Nammyohorengekyo.